Selasa, 17 April 2018

OSP 6 MELAKUKAN UJI PETIK DI KABUPATEN NGANJUK

Kegiatan uji petik dan Coaching Clinik oleh OSP 6 Jawa Timur terhadap 3 (tiga) kelurahan di Kabupaten Nganjuk dilakukan pada hari Selasa, tanggal 10 April 2018. Dalam hal ini, uji petik dilakukan oleh TA SIM yaitu Bapak Aris Suprihanto. Ketiga kelurahan tersebut antara lain Kelurahan Banaran, Kelurahan Ganungkidul dan Kelurahan Kartoharjo. Uji petik dilakukan dalam rangka persiapan DED skala Lingkungan NSUP T.A. 2018 dan dalam rangka pengendalian kesiapan pencairan & pemanfaatan BDI Tahun anggaran  2018. Uji petik yang pertama dilakukan di Kelurahan Banaran, Kecamatan Kertosono dengan berkoordinasi bersama antara pihak Kelurahan Banaran, PK LKM “Melati”. 


Aris S melihat Peta Kel Banaran
Dilanjutkan dengan simulasi pengurangan kumuh. Dengan berpedoman data baseline, aplikasi perhitungan pengurangan kumuh (R0) awal, data survey lapang dan klarifikasi pihak-pihak terkait, kegiatan simulasi tersebut berjalan hingga menemukan skor pengurangan kumuh. Menjadi prioritas dan penentuan calon lokasi penerima BDI T.A. 2018 berada di RT. 02 / RW. 04, Kelurahan Banaran dengan rencana kegiatan paving dan drainase. Kegiatan yang dilakukan setelah simulasi tersebut adalah survey lapang. Antusias Pak Budi selaku RW. 04 terhadap Program KOTAKU sangat mendukung, dengan pengarahan beliau terhadap rencana kegiatan paving dan drainase serta rencana pemeliharaan dan rencana peningkatan lingkungan. Koordinasi yang dilakukan Ibu Trias Surya Dewi selaku Askot Infra Cluster Jombang dengan jajaran Fasilitator Kabupaten Nganjuk sangat terencana baik pada data yang ada dan kondisi lapang serta rencana kegiatan.

 TA SIM OSP 6 Aris S bermusyawarah dengan LKM GanungkidulUji petik selanjutnya dilakukan di Kelurahan Ganungkidul. Kegiatan yang dilakukan relatif sama dengan kegiatan uji petik di Kelurahan Banaran. Awalnya  melakukan koordinasi dengan  pihak Kelurahan yakni Pak Lurah Ganungkidul maupun jajaran LKM "Ekonomi Sejahtera" hal ini dilakukan untuk  menentukan calon lokasi penerima BDI  tahun 2018 yang terletak di RT. 04 / RW. 03. Koordinasi dan tanya jawab dilakukan dengan kegiatan survey lapang sebagai akhir dari kegiatan uji petik di Kelurahan Ganungkidul. Kegiatan uji petik yang terakhir dilakukan di Kelurahan Kartoharjo, dengan rapat pembahasan penentuan calon lokasi BDI tahun 2018 yang jatuh pada lokasi RT. 03 / RW. 02. Menjadi pilihan kegiatan pembangunan saluran drainase di wilayah penerima BDI tersebut. Tak kalah antusias keterlibatan berbagai pihak di Kelurahan Kartoharjo terhadap Program KOTAKU, ketika kegiatan survey lapang dilakukan. Penyelusuran survey lapang dalam uji petik pada sore itu didampingi seluruh tokoh di lingkungan tersebut, Pak Lurah Kartoharjo dan jajaran LKM “Karib Sejahtera” mendampingi kegiatan uji petik yang dilakukan oleh OSP 6 Propinsi Jawa Timur.

TA SIM ARIS S sharing dengan warga Kartoharjo
Diharapkan ada kesesuaian antara data dan lapang dalam kegiatan pengurangan kumuh untuk kesiapan pencairan & pemanfaatan Bantuan Dana Investasi (BDI)  tahun 2018, ujar Bapak. Aris Suprihanto selaku perwakilan OSP 6 Propinsi Jawa Timur dalam kegiatan uji petik tersebut. Pengurangan kumuh di Kabupaten Nganjuk pada tahun 2017 masih dibawah 50% sehingga diperlukan kegiatan kolaborasi. Tujuan dari kegiatan kolaborasi pada Program KOTAKU, salah satunya membantu dalam pengurangan kumuh yang ada pada masing-masing wilayah. “Menjadi target pada tahun 2018 hingga 65% terhadap pengurangan kumuh di Kabupaten Nganjuk”, penyampaian Eka Putri A., selaku Fasilitator Urban Planner ditengah-tengah kegiatan uji petik pada ketiga kelurahan tersebut. Diharapkan antusias berbagai pihak tidak berhenti pada kegiatan uji petik tapi tetap berjalan hingga kegiatan terealisasi dan terkait pemeliharaan kegiatan.

Jumat, 13 April 2018

KSM BERKAH PRODUKSI ANEKA KRIPIK

Diyah M Fasilitator sosial Tim 1 11
Secara geografis dan karakteristik Kelurahan Payaman mata pencaharian masyarakatnya mayoritas bergerak di bidang jasa dan perdagangan. Fakta itu melahirkan ide dan pemikiran perangkat LKM “Mitra Abadi”, Kelurahan Payaman, Kabupaten Nganjuk untuk membuat perencanaan dan menggali potensi keberadaan wilayah tersebut terkait penuntasan kumuh melalui Program KOTAKU.
 Dengan melakukan rapat rutin LKM “Mitra Abadi”, sharing dan berbagai saran akhirnya memutuskan untuk memfasilitasi kelanjutan kegiatan pembuatan aneka keripik, dalam hal ini  merupakan salah satu kegiatan dalam PKM T.A. 2017 pada pelatihan keterampilan. Hal tersebut disambut gembira oleh kelompok usaha tersebut karena kegiatan itu masih berlanjut dan terfasilitasi.
Bermodal dari iuran anggota kelompok yang menamakan diri Kelompok Swadaya Masyarakt “Berkah”, akhirnya dapat memproduksi aneka keripik dan dapat berjalan walaupun masih dalam sekala kecil atau masih melayani dalam skala wilayah pasar besar Kabupaten Nganjuk yang berada di wilayah Kelurahan Payaman itu sendiri.
proses pembuatan kripik
Proses pembuatan kripik
KSM “Berkah” ini merupakan embrio KSM P2BM di Kelurahan Payaman dan diharapkan dapat berjalan dan berkembang di mana  nantintinya memunculkan KSM P2BM dalam Program KOTAKU. Harapan dari KSM “Berkah” sekaligus perencanaan LKM “Mitra Abadi” agar kegiatan ini dapat tetap berjalan dan berkembang karena merupakan embrio awal kegiatan P2BM (Pengembangan Penghidupan Berbasis Masyarakat) dalam rencana program LKM “Mitra Abadi” untuk menunjang kesejahteraan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dalam istilah Program KOTAKU.  Aneka keripik produksi KSM “Berkah” ini ikut memeriahkan dalam Program KOTAKU, setidaknya dalam menuntaskan masalah kumuh dengan menambah income pemasukan keluarga agar mengangkat kesejahteraan mereka.
ibu-ibu bau membau dalam pembuatan kripik
Perbaikan mutu dan kualitas produk aneka keripik KSM “Berkah” ini tetap dilakukan karena KSM ini masih dalam tahap pembelajaran. Termasuk dalam pembuatan label untuk produk KSM “Berkah” ini dan pengemasannya karena masih memakai pengemasan biasa dan manual. Pemikiran dan kerjasama antara kelompok usaha, LKM “Mitra Abadi”, perangkat Kelurahan Payaman dan pihak lain tetap dijalin untuk memunculkan pengembangan & peningkatan usaha berbasis masyarakat dalam bentuk kelompok utamanya pada Masyarakat berpenghasilan rendah. Konsep kelompok, mengacu pada masyarakat berpenghasilan rendah, kolaborasi antar pihak merupakan prioritas utama dalam Program KOTAKU yang ingin difasilitasi dan direalisasikan LKM “Mitra Abadi”. Minimal ada keluaran salah satu kegiatan dan pelaku kegiatan (tentunya dalam bentuk kelompok) pada setiap tahunnya sehingga setidaknya dapat menurukan tingkat kekumuhan pada masing-masing wilayah, terutama Kelurahan Payaman sebagai sentral pusat perdagangan di Kabupaten Nganjuk.


DINKES MELIBATKAN KOTAKU DALAM PENYULUHAN PANGAN PIRT UMKM

Merry Christina Fasos Tim 1.11
NGANJUK Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Nganjuk kembali mengadakan penyuluhan keamanan pangan. Sebanyak 35 pengusaha makanan di Kabupaten Nganjuk mengikuti penyuluhan di Aula Dinkes Nganjuk, Rabu (11/4).  Dra. Sri Soebekti,MM, Kepada Bidang Sumber Daya Kesehatan (SDK) menjelaskan penyuluhan yang dilaksanakan mulai pagi sampai sore bertujuan untuk menjamin keamanan bagi konsumen, keamanan bagi produsen, meningkatkan produk,  meningkatkan pengetahuan produsen pangan industri rumah tangga dalam menghasilkan produk pangan yang aman dan bermutu serta memiliki daya saing.
Dra. Sri Soebekti,MM,   Kepada Bidang Sumber Daya Kesehatan (SDK)
“Penyuluhan ini agar bapak dan ibu semua bisa mendapatkan sertifikat keamanan pangan, sebagai salah satu syarat mendapatkan legalitas pengakuan keamanan makanan dari Dinkes. Berupa nomor Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT)” tambah ibu Sri
Pada tahun 2017, pelaku industri makanan rumah tangga yang sudah mengantongi izin PIRT berjumlah sekitar 791. Menurut Sri Soebekti, selaku kepaLa Bidang menyampaikan bahwa, angka tersebut masih terhitung sedikit. Masih banyak pelaku usaha yang belum mendaftarkan diri.
Penyuluhan  yang diadakan di Jl. Dr. Soetomo No. 77 ini, dipandu oleh 3 orang dari Dinkes, yaitu Erik S, Gatot Subiantoro dan Mamah. Dari Program KOTAKU juga mengirimkan peserta KSM P2BM dalam pelatihan PIRT. Dalam penyuluhan tersebut dilakukan pula Pre test dan Post test sebagai evaluasi, penilaian kemampuan, pemahaman peserta atas materi yang diberikan. Makanan yang lebih dari 7 hari harus mendapatkan P.IRT , sedangkan yang sekali habis tidak perlu PIRT. Didatangkan pula pembicara dari pengolah makanan unik, Awalinda Bestari F. Design unik dan pemasaran yang bagus menjadi fokus materi yang disampaikan.
Peserta pelatihan PIRT
Agar proses waktu pengurusan izin tidak mengganggu pemasaran, Dinkes Nganjuk akan langsung dahulu melakukan peninjauan langsung ke lokasi produksi, apakah layak apa tidak. Sehingga akan aman dikonsumsi oleh konsumen. Apabila telah memenuhi kriteria dapat diterbitkan Sertifikat P-IRT yang berlaku 5 tahun. Apabila tidak memenuhi syarat akan dilakukan pembinaan dan bimbingan untuk bisa memenuhi persyaratan dan dapat diberikan sertifikat PIRT.
dari kanan Fasos Diyah, Ibu Sri Kabag SDK dan Merry C Fasos






Rabu, 04 April 2018

Kisah Howard Schultz, Pengantar Koran yang Sukses Besarkan Starbucks



Howard Schultz adalah salah satu pengusaha tersukses di dunia yang pernah ada. Ia adalah sosok di balik keberhasilan Starbucks yang dulunya hanya warung kopi kecil menjadi salah satu brand kedai kopi ternama di dunia.
Kisah Howard Schultz membesarkan Starbucks telah melalui perjalanan panjang dan berliku. Ia menjabat sebagai CEO Starbucks selama beberapa tahun, hingga akhirnya ia memutuskan untuk resign dari Starbucks pada April 2017 lalu.

Senin, 02 April 2018

MENGENAL LEBIH DEKAT PENYAKIT TB (Tuberkolosis) DAN PHSB

Abdilla
Fasilitator sosial Tim 1.10

Masih dalam ruang lingkup pelatihan Jurnalistik dan sosialisasi PHBS (Pola Hidup Bersih dan Hidup Sehat ) sebagai matra kegiatan  Kolaborasi antara KOTAKU dan Community TB Care Kabupaten Nganjuk, salah satu materi yang  dibahas adalah tentang penyakit TB (Tuberkolosis).  
Penyakit TB (Tuberkolosis) yaitu penyakit yang menyerang paru-paru penyakit tersebut disebabkan Mycobacterium tuberculosis. TB termasuk dalam 10 besar penyakit yang menyebabkan kematian di dunia. Data WHO menunjukkan bahwa pada tahun 2016, Indonesia termasuk dalam 6 besar negara dengan kasus baru TB terbanyak. Dan dari data tersebut usia produktif (antara umur 20-40 Tahun) yang paling banyak diserang dikarenakan mobilisasi seorang dalam usia tersebut sangatlah tinggi dan banyak bergaul dengan banyak orang.  
Salah seorang peserta pelatihan Danar Dono atau Mbah Dono Senior Fasilitator Tim 1.11 Kecamatan Nganjuk dan Bagor bergumam bahwa  usia yang  lebih dari 40 tahun mengatakan  aman dari penyakit tersebut” tapi sepontan  Narasumber dari TB Care Yanwar  mengatakan “semua umur bisa terkena penyakit tersebut jika orang itu tidak memiliki daya tahan tubuh yang kuat”. Penyebab dari penyakit TB (Tuberkolosis) terdapat pada sejumlah orang yang memiliki risiko penularan TB yang lebih tinggi. Kelompok-kelompok tersebut meliputi:  Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti pengidap HIV/AIDS, diabetes, atau orang yang sedang menjalani kemoterapi.
·         Orang yang mengalami malnutrisi atau kekurangan gizi, Perokok, Pecandu narkoba, Orang yang sering berhubungan dengan pengidap TB aktif, misalnya petugas medis atau keluarga pengidap.
Tentu kita perlu mencermati bahwa  semua penyakit ada obatnya, itulah pesan teologis  yang termaktub dalam  sebuah Hadist Nabi S.A.W “Likuli Da’in Dawaun, artinya bahwa setiap penyakit itu ada obatnya” termasuk dalam hal ini adalah  penyakit TB, di mana sudah ditemukan obatnya.  Apabila  ada orang yang sudah terinfeksi penyakit TB, maka  harus minum obat selama 6-8 bulan  atau bahkan lebih. Hal itu harus diminum secara teratur, jika 1 hari saja telat minum obat,  maka harus mengulang dari awal.
Oleh karena itu, perlunya kita menjaga kesehatan kita dengan menumbuhkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) baik itu dari segi pola makan, kebesihan lingkungan. Hati-hati, apabila batuk lebih dari 2 minggu, maka  segera periksakan ke dokter terdekat[]

KOTAKU IKUT BERPARTISIPASI DALAM PERINGATAN TUBERCULOSIS (TB) SEDUNIA

Gunoto Fasilitator Teknik Tim 1.11 ikut berpoto bersama dalam
hari TB sedunia

Nganjuk. Peringatan TB Day sedunia di Kabupaten Nganjuk pada hari Minggu tanggal 1 April 2018  di pusatkan pada kegiatan care free day di alun-alun Nganjuk.  Diawali senam massal,  acara sangat meriah didukung oleh Pimpinan Daerah Aisyiyah Nganjuk, RSI, Aisyiyah Nganjuk membuka stand pemeriksaan kesehatan gratis,  LazisMu , Dinkes , Ikatan Istri Dokter  Indonesia(IID), Perwosi, KPAD, KMP -TB Sedudo, Program KOTAKU warga Aisyiyah dan masyarakat umum.Sambutan kepala dinas kesehatan Kabupaten  Nganjuk disampaikan oleh Didik Hermanu, Kepala seksi  P2  memberikan apresiasi kepada Pimpinan Daerah Aisyiyah Nganjuk,  SSR Aisyiyah, kader TB Hiv Aisyiyah yang telah berjuang memberantas TB  di Kabupaten  Nganjuk. Pada saat itu diberikan penghargaan kepada 10 kader TB terbaik, 15 tukang becak.  Penderita TB MDR  yang telah sembuh juga memberikan testimoni bagaimana ia saat terserang TB yg sulit bernafas, tiap hari disuntik selama 2 bln , tidak menyangka berkat ketekunan dan kesabaran petugas dan keluarga akhirnya bisa sembuh. 
Pada kesempatan ini  sosialisasi penyakit TB, etika batuk, diberikan kepada masyarakat dengan rasa senang (funny ) karena ada door prize  kepada masyarakat yang bisa menjawab pertanyaan.  sosialisasi TB harus menggandeng berbagai kalangan, meskipun pelaksanaan ini banyak kekurangan, kedepan harus banyak bekerjasama dengan program yang memiliki visi dan misi yang sama. pada tanggal 28 Maret, TB juga melakukan sosialisasi di program Kota Tanpa Kumuh, tapi pada acara peringatan TB sedunia logoo Kotaku belum dicantumkan, mungkin ini keterbatasan panitia ujar ibu Masyifa sebagai Koordinator TB, Salam TOSS TB ๐Ÿ– (vita)

Sabtu, 31 Maret 2018

Fasilitator KOTAKU Belajar Dunia Jurnalistik

Firdaus Fasilitator Sosial Tim 1.13 Kec. Bagor

Pelatihan seperti ini bagi wartawan memang bukanlah suatu hal yang menarik dan tidak akan diangkat menjadi suatu berita” Itu salah satu pesan yang disampaikan oleh Anwar Basalamah Narasumber dari Jawa Pos Radar Nganjuk  yang sempat saya ingat waktu acara pelatihan jurnalistik dan sosialisasi Periaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)  pada tgl 28 Maret 2018 di balai Kelurahan Payaman nganjuk tadi. Anwar Basalamah dari Radar Nganjuk yang jadi salah satu pembicara pelatihan jurnalistik membawakan tema tentang berita dengan mencontohkan bahwa dalam suatu pertemuan atau pelatihan yang biasanya ada narasumber dan ada pendengar. Memang tidak menarik untuk menjadi bahan berita. Dan biasanya akan ditolak oleh pimpinan redaksi. Tentu kita menyadari dan memahami bahwa prinsip membuat berita itu harus mengandung mengandung unsur 5 W dan 1 H (What/Apa, When/kapan, Where/dimana, Who/siapa, Why/mengapa, How/bagaimana)
Tetapi bila kita melihat  dalam pelatihan tersebut dalam angle yang berbeda, unik, aneh, maka kita bisa menjadikan pelatihan menjadi sebuah berita yang menarik dan bisa dijadikan suatu berita yang dimuat dalam surat kabar. Salah satu contoh dalam pelatihan dengan angel yang berbeda yaitu misalnya para peserta adalah kelompok transgender, atau bisa juga pesertanya adalah narapidana, kaum defable atau berkebutuhan khusus, maka  bisa jadi itu menjadi berita yang menarik untuk dimuat dikoran menjadi sebuah berita
 Dengan angel yang berbeda,kita bisa menyusun suatu berita dengan unsur soft news. Dengan sedikit memberikan bumbu bercerita seperti novel atau sastra. Maka, bisa jadi berita tentang pelatihan akan diangkat dan dicetak. Sementara Basalamah juga menjelaskan agar berita  atau artikel  menjadi viral.  Tulisan artikel yang bisa viral adalah tulisan yang bisa menghipnotis pembaca sehingga pembaca ikut larut, lebih-lebih dibuat dengan judul yang bombastis. Ada beberapa judul yang menjadi contoh yang berpotensi menjadi viral, diantaranya , Terungkap,Terkuak,Inilah, Begini, Begitu, Ternyata!. Dengan judul yang bombastis tapi kalau isi dari artikel biasa aja. Malah bisa membuat pembaca merasa kecewa. Maka kita harus bisa memperbaiki isi berita atau artikel tersebut.[]


Rabu, 28 Maret 2018

PELATIHAN JURNALISTIK & SOSIALISASI PHBS


Nasrudin
Penulis adalah Senior Fasilitator Tim 1.13
 OSP  6 Jawa Timur 
“Tidak ada kata berhenti dalam belajar!”  
Itulah ungkapan yang ingin disematkan kepada seluruh pendamping fasilitator KOTAKU di Kabupaten Nganjuk. Lewatpelatihan Jurnalistik dan Sosialisasi Perilaku Hidup Bersih (PHBS)  yang digagas oleh Askot Madiri, pada hari Rabu (28-3-2018) bertempat di aula balai pertemuan Kelurahan Payaman Kecamatan Nganjuk pendamping KOTAKU diajak berselancar memperdalam ilmu jurnalistik wabil khusus ilmu menulis berita dan pengenalan penyakit  tuberculosis dan The human immunodeficiency virus ((TB dan HIV)

Acara pelatihan dimulai pukul 09.30 WIB di dahului dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, kegiatan ini hadiri sekitar 30-an peserta, terdiri dari faskel KOTAKU se Kabupaten Nganjuk, FKA-LKM Kecamatan dan Kabupaten Nganjuk serta kepala Kelurahan Payaman. Turut hadir dalam acara tersebut Setiadi ketua forum Nganjuk Sehat sekaligus sebagai pembuka acara.
Dalam sambutan pembukaanya, Setiadi mengapresiasi kegiatan pelatihan seperti ini karena sejalan dengan gerakan Nganjuk Sahat yang digagas ole Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk. “Saya sangat senang kegiatan semacam ini. Di Nganjuk juga ada gerakan Nganjuk Sehat”. Paparnya.
Lebih lanjut Setiadi menyampaikan, Gerakan Nganjuk Sehat bertujuan untuk memberikan informasi dan mengajak kepada masyarakat Nganjuk bahwa pola hidup bersih dan sehat harus menjadi kesadaran bersama masyarakat Nganjuk agar tidak rentan terhadap berbagai penyakit.

Sementara itu hadir sebagai nara sumber pelatihan Jurnalistik dan Sosialisasi PHBS wartawan Jawa Pos-Radar Nganjuk Anwar Basalamah,  ST. dan Staf Data Colection LSM SSR TB HIV Care Aisyiyah Nganjuk, Yanwar Adi Saputra, Amd. Kep.
Dalam paparanya, Anwar Basalamah membeberkan kunci dasar membuat tulisan berita adalah 5W dan 1 H yakni What, When, Where, Who, Why dan How. Ini penting terutama bagi pemula, agar berita/tulisan yang disampaikan mudah dibaca dan difahami oleh orang.
Dalam dunia Jurnalistik dikenal dua jenis berita yaitu  Hard News dan Soft News. Hard Nesw papar wartaan Jawa Pos Radar Ngajuk bertubuh gempal diibaratkan sebagai berita “langsung pukul” dimana pembuatan beritanya langsung fokus pada kejadian atau peristiwa yang sedang berlangsung (hot issue). Sementara Soft News lebih diibaratkan sesuatu yang landai, berputar-putar. Artinya penulisan berita bisa dilakukan dengan banyak kata-kata atau prolog terlebih dulu sesuai dengan keinginan penulis.

Semantara sesi kedua Yanwar Adi Saputra, Amd. Kep.,menjelaskan bahwa Program Penanggulangan Tuberkulosis (TB) berbasis masyarakat merupakan bagian dari Program Penanggulangan TB  guna mendukung pembangunan kesehatan di Indonesia dan pencapaian target Millineum Development Goals (MDGs) no 6 yakni penurunan angka penyebaran penyakit menular.
Secara garis besar Yanwar Adi Saputra menjelaskan bahwa masyarakat harus tau dan faham apa itu TB agar terhindar dari penyakit tersebut, karena bisa beraibat fatal. “ini penting”; Paparnya. Lebih lanjut Yanwar memaparkan satu persatu apa itu TB, cara penularan, resiko penularan, pemeriksaan diagnosis TB, pengobatan TB, pencegahan TB, TB pada anak dan TB resisten obat.

Terakhir Kegiatan Penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Kabupaten Nganjuk mencakup 6 Kecamatan yaitu : Wilangan, Nganjuk, Baron, Sukomoro, Kertosono, dan Ngronggot, ujar Yanwar menutup presentasinya[]