Senin, 19 Maret 2018

LONTONG SAYUR GRIYA MANIS

Oleh. Merry Christina
Penulis adalah Fasilitator Sosial Tim 1.11


Terik matarahari siang itu tak menyurutkan ibu panirah (49 th) untuk berjualan lontong sayur di warungnya. Sejak lima bulan yang lalu ia bersama dengan empat temannya membuka usaha kecil-kecilan warung makan yang diberi nama Griya Manis. Berkat pelatihan ketrampilan Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU), ibu panirah dan temannya membentuk sebuah kelompok Pengembangan Penghidupan Berbasis Masyarakat (P2BM) yang diberi nama kelompok Griya Manis. KSM P2BM merupakan bagian dari komponen progam Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) dalam upaya mendukung kegiatan peningkatan penghidupan berkelanjutan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) melalui pendampingan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dan pendampingan usaha anggota Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM).

Awalnya ibu Panirah dan kelompoknya ragu untuk membuka warung. Apalagi warung makan, karena berbagai makanan tersedia di sekitar warung ibu panirah. Seperti halnya usaha-usaha lainnya, pada hari-hari pertama diwarnai ketidak menentuan, hari ini ramai, hari berikutnya sepi. Menghadapi kondisi seperti ini, bukan menyurutkan niat Ibu Panirah dan kelompoknya tapi malah membuatnya bersemangat untuk berjual agar bagaimana lontong sayurnya dipandang enak dimata pembeli.



         Bu berkerudung ini, biasa berjualan di perempatan Balai Kelurahan Cangkringan, Nganjuk.  Lamban laun warung Griya Manis mulai ramai dikunjungi apalagi pada pagi hari. banyak yang berkunjung untuk sarapan.  Apakagi di depan warung Ibu Panirah ada beberapa pekerja bangunan yang hampir tiap hari makan di warung Ibu Panirah. Bermodalkan awal 600 ribu, hasil warung makan Griya ternyata laris manis. Sejak saat itu ia bersama deng kelompok Griya Manis mulai giat serta bersemangat berjualan lontong sayur.