Kamis, 22 Maret 2018

Uang UPK Lenyap di Desa Karang Tengah

Setelah terungkapnya uang perguliran KOTAKU yang dibawa kabur petugas  UPK lama bernama bu Dina, UPK pengganti yaitu Ibu Purbo ditemani oleh Tim Fasilitator 1.13 Kecamatan Bagor  berusaha untuk menelusuri jejak-jejak Kempok Swadaya Masyarakat (KSM) yang pernah melakukan pinjaman di desa Karangtengah
Pada tanggal 21 bulan maret kemarin Ibu Purbo bersama Tim Fasilitator bergerak ke KSM yang pernah melakukan pinjaman tersebut.  Tujuan pertama yaitu kerumah Ibu Sintowati yang dalam catatan merupakan ketua KSM Harapan 1. Menurut pengakuannya, beliau memang pernah melakukan pinjaman sampai 4 kali. Pinjaman ibu Sintowati tidak pernah terlambat mengangsur dan selalu lunas ujarnya kepada tim fasiitator saat melakukan konfirmasi.
Para anggota KSM tiap bulan bayar ke ketua KSM dan disetorkan ke UPK Bu Dina. Namun beliau tidak bisa menunjukkan bukti setoran ataupun kartu angsuran karena tidak pernah diberi oleh UPK. dalam catatan kolektablitas masih ada sisa tunggakan sebesar 1.200.000, setelah kami melakukan konfirmasi kepada ibu Sintowati, kami bersama tim 1.13 bergerak menuju rumah  Sumarti, ibu Sumarti adalah ketua KSM Harapan 4, saat bincang-bincang dengan Tim kasusnya sama dengan yang dialami oleh ibu Sintowati, bahkan ibu Sumarti menyampaikan kepada kami bahwa pinjaman kepada UPK sudah lunas beberapa tahun lalu dan tidak pernah terambat membayar angsuran. Ibu Sumarti membayar langsung ke UPK, tidak melalui ke ketua KSM. Saat tim Fasilitator melakukan konfirmasi kepada ibu Sumarti mengenai anggota KSM yang dulu bersama-sama meminjam ke UPK,  saya sudah lupa mas, soalnya sudah lama (soale wis suwe.jawa)
Akhirnya dengan agak putus asa karena informasi yang terungkap baru secuil, kami melanjutkan ke peminjam selanjutnya yaitu ke rumah Ibu Priatin selaku ketua KSM Harapan 14 yang menyisakan tunggakan sebesar 5.840.000. Menurut pengakuan beliau, Ibu Priatin memang pernah pinjam ke UPK dan sudah lunas.  Namun setelah pencairan yang kedua, nama ibu Prihatin dipinjam oleh UPK Bu Dina. Untuk anggota KSM yang lain beliau tidak mengetahuinya karena pembayaran langsung ke Bu Dina tidak kolektif.  Tidak  mengenal penat, lelah untuk menuntaskan tunggakan ekonomi bergulir untuk melakukan cek dan ricek kepada nama-nama yang dianggap meminjam kepada UPK.
Lalu kami ke tujuan berikutnya yaitu kerumah ibu Suwarningsih. Ini juga unik, karena Ibu Suwarningsih mengaku meminjam uang di UPK tidak secara kolektif. Namun langsung ke UPK bu Dina dengan pembayaran bulanan langsung ke UPK Bu Dina. Beliau juga tidak mengetahui bahwa pinjaman UPK harus dengan sistem kolektif tidak boleh sendiri sendiri. Dan harus terbentuk KSM terlebih dahulu. Selanjutnya kami ke ketua KSM Harapan 13 Ibu Sulastri dengan tunggakan sebesar 5.600.000.
Menurut pengakuan beliau bahwa pinjaman beliau sudah lunas dan tidak ada tunggakan sama sekali. Kunjungan terakhir kerumah ketua KSM Harapan 8 ibu Watini yang mempunyai tunggakan sebesar 2.100.000. Pengakuan hampir sama dengan KSM lain bahwa beliau telah membayar angsuran tepat waktu dan sisa angsuran dilanjutkan ke UPK baru Ibu Purbo dan sekarang telah lunas. Dengan banyaknya pengakuan KSM yang sudah lunas dan tidak ada yang menunggak, padahal terjadi penunggakan pada KSM tersebut.
Kemana uang UPK itu, sampai saat ini uang itu masih misterius, kami tim Fasiitator tak patah arang untuk menelusuri  dana ekonomi bergulir itu
Strategi selanjutnya yang akan kami lakukan bersama tim adalah melakukan croscek dengan data yang telah UPK kumpulkan dan pengakuan KSM dengan UPK lama yaitu Bu Dina dan suaminya.Semoga ada titik terang dan UPK desa Karangtengah bisa berjalan dengan semestinya dan dana perguliran bisa dimanfaatkan oleh masyarakat desa Karangtengah, Amin[]