Jumat, 04 Mei 2018

Menepis Kompetisi Merajut Kolaborasi


Paradigma lama yang mempososikan kompetisi sebagai media untuk meraih keberhasilan tampaknya sudah tidak kompatibel dan kontekstual dewasa ini. Seringkali kompetisi disatu titik memberikan ruang untuk berlomba-lomba untuk meningkatkan kapasitas diri dan motivasi agar bisa bersaing dengan yang lain. Sementara di sisi lain, kompetisi tak seindah seperti yang dibayangkan, saling sikut dan menggunakan segala cara menjadi fakta yang tak bisa dihindari.
Tentu gagasan David McClelland sebagaimana tertuang dalam bukunya Mansour Fakih Runtuhnya Teori Pembangunan (2002) bahwa yang menentukan nasib manusia itu tak lebih dari kemampuan dirinya untuk berprestasi atau dalam bahasa yang lain David McClelland melakukan kategorisasi mengenai kebutuhan manusia. Pertama bahwa manusia itu membutuhkan prestasi (need for achievement) Kedua kebutuhan untuk berafilisiasi atau bersosialisasi (need for affiliation) dan Ketiga kebutuhan untuk berkuasa (need for Power).
Implikasi dari gagasan McClelland ini bahwa ketertindasan, kemiskinan, kebodohan seolah menegasikan peran Negara sebagai sumber utama yang membuat masyarakat menjadi  miskin atau meminjam bahasa program KOTAKU adalah Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Akan tetapi kemiskinan itu akibat dari manusia itu sendiri yang tidak mau berkompetisi, bekerja keras untuk berpretasi. Tetapi bagi mazhab yang menentang konsep developmentalism  bahwa kemiskinan atau MBR itu hanya puncak gunung es dari regulasi Negara yang tidak pernah hadir dan memihak kepada warga miskin. Dan pada gilirannya kemiskinan menjadi fakta sosial yang sulit dibantah
Sebagai jalan tengah dari pergulatan dua kutub mazhab developmentalism yang dipelopori oleh Adam Smith, Herbert  Spencer David Ricardo di mana pasar menjadi ruang terbuka untuk berkompetisi meraih kesejahteraan masyarakat, dan meminimalisir peran Negara, maka sebagai gantinya  kapitalisme menjadi media paling efektif untuk mempercepat kesejahtearaan masyarakat. Sementara di sisi lain mazhab sosiologi kritis  atau yang lebih populer dengan sebutan Frankfurt School yang dipelopori oleh Antonio Gramsci, Herbert Marcuse, Jurgen Habermas dkk, menilai bahwa pasar atau kapitalisme menjadi ruang  eksploitatif kepada warga Negara yang tak berdaya, yang kaya semakin kaya, yang kaya menghisab yang lemah dan yang lemah semakin lemah
Untuk keluar dari ketegangan dua mazhab itu maka kolaborasi menjadi niscaya dan menjadi solusi yang harus dilakukan. Meskipun kolaborasi dalam program KOTAKU belum mencerminkan kolaborasi yang sesungguhnya. Sebagaimana yang disampaikan Jonathan (2004) bahwa kolaborasi sebagai proses interaksi di antara beberapa orang yang berkesinambungan. Bagaimana mau berinteraksi, duduk bersama mengagas perencanaan pembangunan saja tidak pernah terjadi. Dan gilirannya kita melakukan pengumpulan data kegiatan yang beririsan dengan program KOTAKU. Itupun tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Di lapangan, seringkali lurah dan kades merasa diinvestigasi, diintrogasi kegiatan yang sudah dilakukan. Bahkan sebagian kepala desa dan Lurah merasa tidak nyaman manakala ditanyakan kegiatan atau pembangunan apa saja yang sudah dilakukan. Mungkin itulah kolaborasi minimalis dalam program KOTAKU. Minimalis saja sulit, apalagi kolaborasi yang maksimal, yang sejak awal perencanaan program dilibatkan. Tapi itulah tantangan yang harus kita lakukan.
Mengedepankan sinergi dan kolaborasi sebagai mazdhab baru dalam pembangunan tampaknya tidak bisa ditwar lagi. Hal ini penting dilakukan karena selama ini pembangunan dilakukan secara sektoral dan parsial. Implikasinya adalah pembangunan tak berjalan secara efisien dan efektif. Oleh karena itu, mendahulukan kolaborasi ketimbang kompetisi dari ragam program yang ada harus dioptimalkan dan dimaksimalkan. Jika tidak, pembangunan untuk mengurangi luasan kumuh menjadi 0% atau penurunan MBR di tahun 2019 hanya menjadi halusinasi dan mimpi buruk[]