Rabu, 18 Juli 2018

FASILITATOR BERUBAH FUNGSI MENJADI DEBT COLLECTOR


Hari selasa Jam 10.30, seperti biasa kelakar Danar Dono Senior Fasilitator TIM 1.11 dan Miftahul Ulum di posko KOTA Kelurahan Kartoharjo, dengan santai ulum bilang, Mbah Dono ( panggilan fenomenal) mumpung ada Asmannya, sampaikan yang tadi malam disampaikan ke saya, mosok curhatnya ke saya ujar Ulum. Saya jawab opo neh. kata Mbah Dono, masak fasilitator menjadi tukang tagih pinjaman KSM macet. Saya hanya ketawa, yang menyuruh menagih siapa? Saya hanya menyuruh tunggakan KSM  macet harus berkurang aku menimpali.

Tentu bahasa sarkasme ini seolah membenarkan fakta yang ada. Teman-teman fasilisilitator juga menjadi bagian dari tim penagih. Jika selama ini yang bertugas adalah Unit Pengelola Keuangan (UPK) dan LKM, maka pada saat ini Tim fasilitator ikut terlibat untuk menagih KSM macet itu, bahkan pada tanggal 9 Juli saya sebagai  Askot Mandiri juga ikut menagih di Kelurahan Cangkringan, dan Alhamdulillah dari 17 orang peminjam yang bayar 9 orang sebanyak 400 ribu. Kita tak memungkiri bahwa support group  berdampak dahsyat. Jika hanya satu orang yang menagih dalam hal ini UPK,banyak warga yang beralibi tidak ada uang, bahkan UPKnya dimarahin (clatu:jawa) tetapi berbeda jika UPK dan tim Fasilitator yang menagih, aura peminjam atau KSM macet meskipun tidak punya uang respon KSM begitu semangat, minimal mengapreasiasi kedatangan tim penagih UPK dan Tim fasilitator
 Fakta ini memberi pelajaran penting bagi kita sebagai pelaku program bahwa mendorong masyarakat berdaya dan mandiri tak semudah membalikkan telapak tangan. KSM sebagai penghalang mewabahnya bank titil atau meminjam bahasa masyarakat Nganjuk Bank Cicilan Ajek (BCA) yang Bunganya 20% dengan syarat hanya menyetor KTP, tak cukup membendungnya. BCA dinilai masyarakat lebih enak, nyaman dan tidak ribet dibandingkan denga meminjam kepada UPK yang harus berkelompok dalam wadah KSM dan mengikuti kaidah tanggung renteng
Menjadikan KSM macet sebagai peluang untuk melakukan intensitas pendampingan kemasyarakat menjadi mutlak adanya, interaksi dengan peminjam menjadi nilai tersendiri di lapangan. Mengentahui langsung masyarakat yang meminjam ke UPK dan macet tak hanya melihat dari deretan agka-angka. Di lapangan, ada warga yang meminjam kondisinya sangat memperihatinkan. Andai di program ini ada pemutihan tentu upaya itu dilakukan meningat kondisi peminjam yang benar-benar tidak mampu. Tetapi ada juga peminjam macet yang dilatari bukan semata-mata tidak memiliki uang untuk mengembalikan tetapi pada cara berpikirnya mengenai uang hibah, uang pemerintah

Tentu banyak hal mengapa banyak KSM macet, di samping pembentukan kelompok yang hanya berorientasi kepada uang tanpa memikirkan pengembangan usaha. Di sisi lain mandulnya kelembagaan LKM yang tidak berjalan bahkan mengalami langkah mundur dari tugas dan fungsinya dalam mensemaikan nilai-nilai baik da perduli itu.  Dalam kondisi seperti ini, membiarkan UPK dan LKM bergerak dalam menuntaskan KSM macet seperti melukis di atas hamparan air bening, hilang tanpa bekas. Oleh karena itu hadirnya Tim Fasilitator menjadi bagian dan ikut andil dalam menurunkan tunggakan KSM menjadi solusi di tengah kemandulan LKM dan tidak berdayanya UPK.
 Di desa Sugihwaras tim Fasilitator dan UPK-LKM melakukan penagihan kepada KSM macet. Hari selasa sore tanggal 17 Juli 2018 tim 1.11 Fasilitator, UPK dan LKM bergerak menuju rumah KSM yang macet. Ada tiga orang yang dikunjungi, dengan  gayung bersambut ketiganya membayar. Total angsuran yang dibayarkan sejumlah 1.100.000.  andaikan TIM fasilitator tidak menjadi dept collector, akankah berdampak sedahsyat ini.[] bersambung menunggu cerita nabi-nabi dari Kiyai Danar Dono