Selasa, 23 Oktober 2018

KOTAKU MENGGANDENG DISPERINDAG DALAM PELATIHAN KEMASAN KSM P2BM

Nganjuk, Belakangan ini masyarakat di Kabupaten Nganjuk baik di Kecamatan Kertosono, Nganjuk, Kecamatan dan Bagor disibukan dengan pelaksanaan Peningkatan Kapasitas Masyarakat (PKM) dan akan melakukan pemilhan ulang  Pimpinan Kolektif (PIMKOL-LKM)  dan RWT.
Pemilihan PK LKM ini penting dilakukan sebagai bagian dari rotasi dan orentasi LKM dan amanah AD/ART yang harus dilakukan walaupun Program sudah berganti, tetapi selama LKM itu masih ada maka wajib hukumnya untuk melakukan siklus tersebut. Di sisi lain kreatifitas untuk berkolaborasi yang selalu didengungkan kepada masyarakat menjadi tugas bersama antara pemangku kepentingan (Stakeholder)/PEMDA, Fasilitator dan masyarakat.
Kolaborasi adalah suatu proses partisipasi beberapa orang ataupun kelompok organisasi untuk bekerja bersama mencapai hasil tertentu (Kusnandar:2013), Kolaborasi bisa dikatakan sebagai senjata utama Program Kota Tanpa Kumuh  (KOTAKU) yang memiliki tujuan melatih masyarakat agar sadar bahwa bantuan dari pemerintah (BLM/BDI) bukanlah satu-satunya sumber yang harus selalu dinanti. Banyak sumber lain yang perlu dicari dan dikolaborasikan  dengan Program Kota Tanpa Kumuh  (KOTAKU), salah satunya adalah pelatihan kemasan dan sosialisasi Perizinan Pangan dan Industri Rumah Tangga (PIRT) yang diadakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (DISPERINDAG) bekerjasama dengan Dinas Kesehatan (DINKES) Kabupaten Nganjuk.
Pelatihan kemasan dilaksanakan dua hari mulai tanggal 18-19 Oktober 2018 bertempat di Pusat oleh-oleh khas Nganjuk Jl. Raya Surabaya-Madiun Desa Karang Tengah Kecamatan Bagor Kabupaten Nganjuk. Dalam pelatihan pengemasan produk  olahan makanan dan minuman tersebut sebagai keynote speaker Ibu Kepala DISPERINDAG Dra. Rr. Heni Rochtanti, MM. ia menyampaikan bahwa produk-produk UMKM Kabupaten Nganjuk akan difasilitasi untuk bisa masuk pasar-pasar modern sesuai dengan visi dan misi Bupati Nganjuk yang baru saja dilantik, untuk mewujudkan hal tersebut produk-produk yang dihasilkan harus sesuai dengan standar baik dari kemasan maupun dari segi keamanan pangan. hal senada juga disampaikan dari Dinas Kesehatan Ibu Erik Sulistiyo Rini bahwa setiap produk yang dihasilkan harus memiliki izin produksi agar bisa bersaing dengan produk-produk yang sudah ada.
Adapun tahapan-tahapan yang harus dilakukan untuk mendapat izin produksi (PIRT) pertama adalah pengumpulan Formulir Penganjuan PIRT dan yang kedua Penyuluhan keamanan pangan, ketiga Survey lokasi produksi dan yang keempat sertifikat PIRT itu semua Gratis tanpa dipungut biaya selanjutnya untuk menindaklanjuti hal tersebut dari Dinas Kesehatan akan melaksanakan penyuluhan keamanan pangan pada tanggal 29 Oktober 2018.
 Materi selanjutnya pelatihan kemasan sebagai Narasumber adalah Bapak Ir. Kristiawan yang berasal dari Malang dan sudah mendapatkan penghargaan UPAKARTI dari Bapak Presiden beliau menyampaikan pengalaman memulai usahanya sampai sukses memasarkan berbagai produk olahan makanan dan minuman ke seluruh penjuru tanah air dan luar negeri, dengan gaya yang santai dalam penyampaiannya dan bahasa yang mudah dimengerti banyak sekali ilmu tentang pengemasan produk agar terlihat lebih menarik minat konsumen dan peserta pelatihan diajak langsung mempraktekkan cara mengemas produknya masing-masing. Strategi pengemasan yang cantik akan menaikan nilai jual produk, dicontohkan oleh narasumber beberapa produk luar negeri yang isinya permen tapi sangat terlihat menarik dan memiliki harga yang fantastis untuk ukuran harga permen.
Hasil pelatihan tersebut terlihat dari salah satu peserta yang mengikuti pelatihan tersebut adalah Ibu Sri Pujiati dari Desa Kudu Kecamatan Kertosono yang juga ketua KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) Terampil mengatakan bahwa pelatihan kemasan membuka wawasan beliau untuk mengemas produknya lebih baik lagi selain kualitas yang lebih utama, masih kata Ibu Sri dalam era digital sekarang ini kemasan yang menarik lebih mudah untuk memasarkan dan diterima oleh konsumen baik lewat sosial media maupun langsung ke konsumen.

Penulis adalah Fasilitator sosial Tim 1.10 Kec.Kertosono